Cerita di Balik Karnaval Lawang, Riuh Kreativitas Tanpa Suara Bising

- Redaktur

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Panitia karnaval lawang. Dari sebelah kiri : pak kuswandi ketua RW 9, pak gunardi ketua RW 4, pak Bambang Puji Raharjo lurah lawang, Bapak H. Daya Sundara ketua LPMK Lawang, pak Kris ketua RW 7, Pak Imam ketua RW 3, Ketua Panitia Pak Mahmud Haris Al Amin, S.T., S.Pd., M.Pd. Kepala Sekolah SDN 2 WONOREJO.

 

LAWANG, SJP — Pagi itu, jalanan Lawang mulai dipenuhi warga. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia datang dengan kostum dan atribut yang telah disiapkan jauh-jauh hari. Satu per satu kontingen bersiap menunggu giliran berjalan dan tampil di hadapan masyarakat beberapa waktu lalu.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari suasana karnaval pada umumnya. Tidak terdengar dentuman suara bising (sound horeg) yang mendominasi jalanan. Tidak ada goyang pargoy, pakaian vulgar, maupun suasana pesta yang kehilangan makna.

Yang terdengar justru riuh percakapan warga, musik pengiring penampilan, serta kreativitas peserta yang membawa cerita masing-masing.

Di balik konsep tersebut, ada gagasan yang sejak awal ingin ditanamkan Ketua LPMK Kelurahan Lawang, H. Daya Sundara, yang juga merupakan pemilik PT Excel Mandiri bersama panitia dan kesepakatan warga.

Pembukaan Karnaval Kelurahan Lawang dilakukan H. Daya Sundara, didampingi Mahmud Haris Al Amin selaku Ketua Panitia Karnaval dan Pawai Baris. Haris juga dipercaya menjadi MC dalam kedua rangkaian kegiatan tersebut.

Menurut Daya, masyarakat tetap membutuhkan hiburan. Tetapi hiburan tidak harus selalu identik dengan kebisingan dan euforia berlebihan.

“Jangan cuma kita, ibaratnya, kemerdekaan itu dilakukan dengan hura-hura. Kita harus menghargai sejarah, bagaimana kakek nenek kita dulu berjuang untuk memerdekakan negara ini,” katanya, Minggu (30/8/2026).

Bagi Daya, pemikiran itu kemudian diterjemahkan ke dalam konsep Karnaval Kelurahan Lawang yang mengangkat sejarah perjuangan dan kebudayaan.

Permainan tradisional kembali diperkenalkan. Pakaian bernuansa budaya dikenakan peserta. Sementara drama teatrikal menjadi cara bagi setiap kontingen untuk membawa cerita sejarah ke tengah masyarakat.

Senada, Haris mengatakan mengisahkan. Jika sejarah tidak lagi hanya menjadi cerita di buku. Di jalanan Lawang, sejarah diperagakan, dimainkan dan disaksikan bersama.

Ada kontingen yang membawa cerita perjuangan kemerdekaan. Ada pula yang mengangkat kisah tokoh dan sejarah daerah, mulai dari Roro Jonggrang, Pangeran Buntung Buntowoso, Remusa, Singosari, Majapahit, Lawang Sewu hingga sejarah Stasiun Lawang.

Di situlah karnaval kemudian menemukan maknanya. Hiburan tetap hadir, tetapi berjalan beriringan dengan edukasi.

Anak-anak tidak hanya berdiri di pinggir jalan sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari pertunjukan. Remaja, orang dewasa hingga lansia juga mengambil peran dalam satu rangkaian kegiatan.

Bagi Haris, keterlibatan lintas generasi tersebut merupakan investasi sosial. Anak-anak diberi ruang untuk berkarya, berinteraksi dengan lingkungan sekaligus memahami nilai yang terkandung dalam peringatan kemerdekaan.

Keberagaman latar belakang peserta juga tidak menjadi penghalang. Mereka bertemu dalam satu panggung dan satu jalan yang sama. Nasionalisme tidak sekadar diucapkan melalui slogan, tetapi dipraktikkan melalui kerja bersama.

Peserta mulai mengantre sekitar pukul 07.00 WIB, sementara pemberangkatan dijadwalkan pukul 07.30 WIB. Rangkaian penampilan bahkan terus berlangsung hingga sore karena sejumlah RW masih menunggu giliran.

“Sebanyak 15 kontingen dari 11 RW ikut ambil bagian. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari warga, kelompok lansia, lingkungan sekolah, PT Excel Mandiri, DNN 6 Project hingga staf kelurahan,” kata Haris.

Di sepanjang jalur karnaval, masyarakat bukan hanya menyaksikan pertunjukan. Aktivitas ekonomi juga ikut bergerak.

Pelaku UMKM dan pedagang dari Kecamatan Lawang memanfaatkan keramaian tersebut untuk menjajakan berbagai dagangan.

Jalanan pun berubah menjadi ruang bersama. Ada hiburan, ada perniagaan, ada sejarah, ada budaya, sekaligus ada perjumpaan antarwarga.

“Karnaval yang dimulai sejak pagi itu baru berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. Waktu yang panjang tersebut menjadi gambaran besarnya energi warga ketika kreativitas diberi ruang,” Pungkas Haris.

Pada akhirnya, Karnaval Kelurahan Lawang seperti ingin menunjukkan satu hal sederhana: sebuah perayaan kemerdekaan tidak harus kehilangan makna hanya karena ingin menghadirkan hiburan.

Tetapi riuh itu datang dari kreativitas warga, cerita sejarah, tepuk tangan penonton dan kebersamaan lintas generasi, bukan semata-mata dari suara sound yang bising.

Berita Terkait

Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Aremania Panjatkan Doa dan Suarakan Keadilan di Balai Kota
Janji Kampanye Dipertanyakan, Relawan P3 H. Paisal Tuntut Realisasi Bantuan Gigi untuk Rosmawati
Osob Kiwalan Didorong Jadi Identitas Hidup, Bukan Sekadar Warisan Masa Lalu
Polresta Malang Kota Gelar Deklarasi Ngalam Hebak, Budayakan Bahasa Walikan
Ketua GRIB JAYA Malang Sebut Nazali Lempo Layak Dipertimbangkan Jadi Jaksa Agung
Sebanyak 348 Pelajar Banyuwangi Ikuti Digital Mission Race Palang Merah Remaja (PMR)
Ide Kreativitas Warga Purwoharjo Banyuwangi, Ramaikan CFD Jadi Pasar Kuliner Libatkan 500 UMKM
Anniversary S2B Modification Contest Siap Guncang Marina Boom Banyuwangi 27 September 2026

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Silaturahmi Erat, KKSSI Dumai Barat Perkuat Sinergi Bersama Camat

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Janji Wali Kota Dumai Direalisasikan, Relawan P3 Akhirnya Dapat Penanganan Dokter Gigi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 03:25 WIB

Soal Polemik Bau Limbah Kotoran Sapi yang Diolah jadi Biogas, Satreskrim Polres Masih Tunggu Hasil Sampel Keluar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Golkar Tulungagung Sambut Positif Pelantikan M. Sarmuji Jadi Menperin: Sangat Layak dan Paham Akar Masalah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:49 WIB

Maling Gas Melon Beraksi di Sumberayu Muncar, Terekam CCTV Sebelum Gondol Tabung dan Perangkat CCTV – Polisi: Belum Ada Laporan Masuk

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Maling Bobol Warung di Sumberayu Muncar, Polisi Sebut Belum Ada Laporan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Aremania Panjatkan Doa dan Suarakan Keadilan di Balai Kota

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:44 WIB

Kronologi Toko Ogan Terbakar di Kota Malang, Seorang Pria Sempat Terjebak di Dalam Bangunan

Berita Terbaru