MALANG, Jejaringindonesia.com — Pawai baris-berbaris kembali hadir di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Sabtu (29/8/2026). Setelah sekitar satu dekade tidak digelar di jalanan Lawang, kegiatan ini kembali mempertemukan ribuan langkah pelajar dalam sebuah aktivitas yang memadukan pendidikan karakter, aktivitas fisik, kreativitas, dan pembelajaran sosial di ruang publik.
Berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 17.00 WIB dengan rute sekitar 1,56 kilometer, peserta dari jenjang SD, SMP, SMA dan sederajat mengikuti rangkaian barisan dengan gerakan dasar serta variasi yang telah dipersiapkan masing-masing kelompok.
Dari perspektif pendidikan, aktivitas tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Peserta didik dituntut memahami instruksi, menjaga konsistensi gerakan, mengendalikan diri, mempertahankan formasi, serta menyesuaikan tindakan dengan anggota kelompok. Proses itu berkaitan erat dengan pembentukan disiplin dan kemampuan kolaboratif.
Baris-berbaris juga menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman. Kesalahan satu anggota dapat memengaruhi keteraturan kelompok, sehingga setiap peserta belajar mengenai tanggung jawab individual dalam mencapai tujuan bersama. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan kecakapan sosial dan karakter peserta didik.
Ketua Panitia Pawai Baris-Berbaris Kecamatan Lawang, Haris, yang juga Kepala SD Negeri 2 Wonorejo Kecamatan Lawang, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan ruang pembelajaran karakter kepada peserta didik melalui aktivitas yang melibatkan kedisiplinan, solidaritas dan kerja sama.
“Melalui kegiatan ini anak-anak belajar disiplin, kekompakan, solidaritas, nasionalisme dan patriotisme. Mereka juga mendapatkan pengalaman untuk membangun mental dan kepercayaan diri ketika harus tampil di depan masyarakat,” ujarnya.
Aspek kreativitas turut mendapatkan ruang melalui variasi gerakan yang ditampilkan peserta. Dengan demikian, peserta tidak hanya dituntut mampu mengikuti pola gerakan dasar, tetapi juga mengolah penampilan kelompok melalui koordinasi, ekspresi dan inovasi yang tetap berada dalam koridor ketertiban barisan.
Kegiatan ini juga menjadi alternatif aktivitas produktif bagi pelajar di tengah meningkatnya intensitas penggunaan gawai. Pertemuan secara langsung dalam kelompok, aktivitas fisik, komunikasi dan latihan bersama memberikan stimulasi sosial yang berbeda dari interaksi melalui perangkat digital.
Bagi wali murid, keterlibatan anak dalam pawai menjadi pengalaman yang memiliki nilai emosional sekaligus edukatif. Orang tua dapat melihat secara langsung proses latihan dan hasil kerja kelompok yang ditampilkan anak-anak mereka di hadapan masyarakat.
Dari sisi penyelenggaraan, pawai melibatkan lintas sektor. Panitia PHBN Kecamatan Lawang bekerja sama dengan unsur pendidikan SD, SMP, SMA dan sederajat. Dukungan kesehatan melibatkan puskesmas, RSUD, Lawang Medika dan puskeskel, serta mendapat dukungan Muspika Lawang.
Pengelolaan kegiatan di lapangan juga melibatkan partisipasi masyarakat. Sejumlah komunitas dan organisasi sosial di Kecamatan Lawang turut membantu, antara lain Arela, Lawangku, RAPI, Kamling Udara, Pecinta Alam MAHAPENA, Banser, FKPPI, Linmas, serta seluruh ketua RW se-Kelurahan Lawang.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berlangsung melalui institusi sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan ruang belajar yang memungkinkan peserta didik berinteraksi, beradaptasi dan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Kembalinya pawai setelah sekitar 10 tahun sekaligus menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali ruang interaksi publik bagi generasi muda Lawang. Jalanan yang selama ini menjadi ruang mobilitas masyarakat, pada hari itu berubah menjadi ruang belajar terbuka tempat pelajar mempraktikkan disiplin, komunikasi, kepemimpinan, kerja sama dan keberanian tampil.
Haris berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang semakin edukatif dan partisipatif. Pawai, menurutnya, memiliki potensi menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter apabila nilai-nilai yang diperoleh selama persiapan hingga pelaksanaan dapat diteruskan dalam kehidupan sekolah dan lingkungan sosial.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya kemampuan baris-berbaris, tetapi karakter anak. Mereka belajar bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap kelompok, setiap gerakan membutuhkan disiplin, dan setiap keberhasilan membutuhkan kerja sama. Nilai-nilai seperti ini yang kami harapkan tumbuh dan terbawa dalam kehidupan mereka sehari-hari,” pungkasnya.
Jurnalis: Hafid
Editor: Diky Prasetyo












