BANYUWANGI, Jejaringindonesia.com – Kemeriahan karnaval dengan sound system berdaya besar atau yang dikenal “sound horeg” menjadi daya tarik masyarakat di berbagai daerah. Namun di balik kemeriahannya, paparan suara dengan volume sangat keras menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan pendengaran.
Hal tersebut disampaikan dr. Yohanes Dimas, Sp.THT-KL saat ON AIR di Radio Bintang Tenggara 95.6 FM, Senin 18 Agustus 2026.
Menurut dr. Dimas, telinga memiliki mekanisme perlindungan alami melalui refleks stapedius yang berfungsi mengurangi getaran suara keras menuju telinga bagian dalam.
“Namun mekanisme tersebut tidak selalu mampu melindungi telinga dari paparan suara yang sangat kencang, apalagi jika berlangsung berulang dan dalam durasi lama,” jelasnya.
Anak-anak dan lansia disebut sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan terhadap dampak suara bising.
Salah satu keluhan yang sering muncul adalah tinnitus atau telinga berdenging. Keluhan ini biasanya baru terasa saat berada di tempat tenang, seperti malam hari atau keesokan harinya setelah acara.
Jika paparan suara keras terus berulang dan tidak ditangani, kondisi tersebut berisiko menyebabkan penurunan fungsi pendengaran yang menetap.
dr. Dimas mengimbau masyarakat agar bijak menikmati hiburan. Gunakan pelindung telinga, jaga jarak dari sumber suara, dan batasi durasi paparan agar kesehatan pendengaran tetap terjaga.
Jurnalis: Boby Try
Editor: Diky Prasetyo












