PAPUA, Jejaringindonesia.com – Tokoh Papua Yunus Saflembolo, SE., MTP menawarkan model baru pengembangan UMKM di Tanah Papua. Konsepnya bertumpu pada potensi lokal dan kearifan adat dengan pendekatan “From Planning to Downstreaming” atau dari perencanaan hingga hilirisasi.
Gagasan ini disampaikannya pada Selasa (05/08/2026). Menurut Yunus, pembangunan ekonomi Papua tidak bisa meniru model dari luar, tetapi harus berpijak pada apa yang sudah dimiliki masyarakat secara turun-temurun.
Dasar pemikiran ini bertumpu pada komoditas unggulan Papua seperti sagu, keladi, jagung, ubi-ubian, hasil hutan, dan perikanan. Tak hanya itu, nilai luhur budaya seperti semangat gotong royong dan sistem kepemilikan bersama juga menjadi fondasi utama.
“Kita mulai dari apa yang ada di kampung. Jangan merusak tatanan adat, justru jadikan itu kekuatan,” ujar Yunus.
Perencanaan Berbasis Kearifan Lokal
Langkah konkretnya meliputi pemetaan potensi per kampung/distrik, melibatkan kepala adat, tokoh kampung, dan ibu-ibu dalam merancang usaha, serta menyusun rencana produksi yang selaras dengan siklus alam.
Contohnya, pengolahan sagu dengan cara tradisional dikembangkan menjadi tepung berkualitas, dan pemanfaatan varietas keladi serta jagung lokal yang sudah terbukti tahan.
Hilirisasi Produk – Menaikkan Nilai Tambah Bahan mentah diolah menjadi produk jadi yang memiliki identitas Papua.
Sagudiolah jadi mie sagu, biskuit sagu, hingga makanan bayi dengan kemasan bermotif ukiran adat.
Keladi menjadi keripik, tepung, dan kue kering. Jagung diolah jadi sereal, camilan, dan bahan roti.
Prinsipnya: bahan baku 100% dari wilayah setempat, proses melibatkan tenaga kerja lokal, dan kemasan mengangkat budaya daerah.
Dibangun berjenjang dari kampung ke pasar. Kelompok Wanita Tani mengelola bahan baku, Koperasi Desa Merah Putih menangani pengolahan lanjutan, hingga Sentra IKM di tingkat provinsi untuk pembinaan dan akses ekspor.
Dukungan datang dari Pemerintah lewat pelatihan dan Dana Otsus, Perguruan Tinggi untuk riset produk, dan Masyarakat yang menjaga kelestarian bahan baku.
Sasaran: Ekonomi, Sosial, dan Budaya
Yunus menyebut model ini punya 4 manfaat utama:
1. Ekonomi: Pendapatan masyarakat meningkat berkali lipat dan mengurangi ketergantungan barang dari luar Papua.
2. Sosial: Menciptakan lapangan kerja di kampung dan mengurangi urbanisasi.
3. Budaya: Kearifan lokal tidak hilang, justru menjadi nilai jual utama.
4. Pembangunan: Selaras dengan visi Otonomi Khusus untuk kemandirian masyarakat Tanah Papua.
“Keuntungan usaha nanti dikembalikan lagi untuk pendidikan, kesejahteraan kampung, dan peremajaan usaha. Ini ekonomi yang berputar di kampung,” pungkasnya.
Jurnalis: Ria
Editor: Diky Prasetyo












