Konservasi Hutan Jadi Fondasi Masa Depan Kopi Tulungagung

- Redaktur

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung, Jejaringindonesia.com –
Semangat membangun industri kopi yang berkelanjutan mewarnai Talk Show NGOPI (Ngolah, Pikir & Inovasi) yang digelar di Lapangan Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Sabtu (1/8/2026). Mengusung tema “Konservasi Hutan untuk Mendukung Inovasi Industri Kopi Hulu-Hilir di Kabupaten Tulungagung”, kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah, penyuluh kehutanan, dan petani kopi dalam satu forum diskusi yang mengedepankan sinergi antara konservasi lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Talk show yang dimoderatori Maria Margaretha, Analis Kebijakan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Tulungagung, berlangsung interaktif. Para narasumber menyampaikan pandangan mengenai potensi kopi Tulungagung yang dinilai mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional apabila didukung kualitas sumber daya manusia, riset, dan tata kelola lingkungan yang baik.

Dr. Ir. Zaenudin, Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia periode 2000–2005, menjelaskan bahwa prospek industri kopi Indonesia terus mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, Indonesia kini menjadi salah satu produsen kopi specialty terbesar di dunia dengan komoditas unggulan seperti Aceh Gayo, Toraja Kalosi, dan Flores Bajawa.

Ia menyampaikan bahwa tren konsumsi kopi dunia terus tumbuh sekitar empat persen setiap tahun. Bahkan, kopi premium Java Arabica mampu dipasarkan hingga sekitar delapan dolar Amerika Serikat di pasar internasional. Peluang tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produksi melalui riset, penguatan sumber daya manusia, serta strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Tulungagung memiliki peluang besar menghasilkan kopi berkelas dunia. Namun, pengembangan industri kopi berkelanjutan harus diawali dengan riset serta kesiapan menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujarnya.

Sementara itu, Ir. Agus Dwi Prasetyo, S.ST., M.Ling, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Trenggalek, menegaskan bahwa kopi dan hutan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Hutan yang terjaga akan menjaga ketersediaan air, mendukung keseimbangan ekosistem, dan menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan tanaman kopi.

Ia menjelaskan bahwa pohon penaung memiliki peran penting dalam budidaya kopi, di antaranya menurunkan suhu, menjaga kelembapan tanah, memperkaya unsur hara, melindungi tanaman dari terpaan angin, serta menjaga keanekaragaman hayati. Menurutnya, tantangan sektor kopi saat ini meliputi perubahan iklim, menurunnya sumber air, lahan kritis, fluktuasi harga, hingga produktivitas yang belum maksimal. Karena itu, penerapan sistem agroforestri dan pemanfaatan program Perhutanan Sosial menjadi solusi agar masyarakat dapat mengelola kawasan hutan secara legal sekaligus mengembangkan usaha dan hilirisasi produk kopi.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Slamet Wahyudi, Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Ia menyebut kawasan Pagerwojo dan Sendang memiliki potensi besar sebagai sentra kopi karena didukung kondisi alam yang sesuai. Menurutnya, keberhasilan pertanian kopi sangat bergantung pada keberhasilan menjaga kawasan hutan sebagai penyangga sumber mata air. Kelestarian hutan juga menopang sektor peternakan, khususnya sapi perah, yang berkembang di wilayah tersebut. Dinas Kehutanan pun siap memberikan bibit dan pendampingan kepada kelompok tani maupun masyarakat yang ingin mengembangkan kopi berbasis konservasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Suasana diskusi semakin hidup ketika Mbah Badi, petani inspiratif asal Desa Nglurup, membagikan kisah perjalanannya sebagai pelopor kopi di lereng Gunung Wilis. Hingga kini ia tetap istiqamah mengelola sekitar 5.000 pohon kopi yang hasilnya telah menembus pasar ekspor ke California, Amerika Serikat, dan Belanda.

Baginya, kopi bukan sekadar komoditas, tetapi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor kopi karena memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Mbah Badi juga mengapresiasi pendampingan Bank Indonesia dalam pengembangan usaha kopi. Di sisi lain, ia berharap adanya regulasi yang lebih jelas terkait pemanfaatan kawasan hutan lindung agar budidaya kopi dan upaya konservasi dapat berjalan beriringan.

Selain menghadirkan diskusi inspiratif, kegiatan NGOPI juga diramaikan dengan pameran dan stan kopi yang menampilkan beragam produk unggulan serta kreativitas para pelaku kopi lokal Tulungagung. Pengunjung dapat menikmati Lukisan Cethe, Kopi Cethe Tulungagung, UCCA Kopi, KUB Omah Kopi Mandiri, KTH Pagerwojo, Kopi Alas, Kopi Badi, hingga stan Petani Binaan Dinas Kehutanan. Kehadiran stan-stan tersebut menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi Tulungagung kepada masyarakat. Tidak sedikit pengunjung yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung dengan para petani, mencicipi berbagai varian kopi, serta mengenal proses budidaya dan pengolahan kopi dari hulu hingga hilir.

Melalui forum Talk Show NGOPI, para narasumber sepakat bahwa masa depan kopi Tulungagung tidak hanya ditentukan oleh tingginya permintaan pasar, tetapi juga oleh komitmen menjaga kelestarian hutan. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, penyuluh, kelompok tani, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun industri kopi yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan sinergi tersebut, kopi Tulungagung diharapkan mampu semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional, sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian alam.

Jurnalis: Hanik

Editor: Diky Prasetyo 

Berita Terkait

Silaturahmi Erat, KKSSI Dumai Barat Perkuat Sinergi Bersama Camat
Janji Wali Kota Dumai Direalisasikan, Relawan P3 Akhirnya Dapat Penanganan Dokter Gigi
Soal Polemik Bau Limbah Kotoran Sapi yang Diolah jadi Biogas, Satreskrim Polres Masih Tunggu Hasil Sampel Keluar
Golkar Tulungagung Sambut Positif Pelantikan M. Sarmuji Jadi Menperin: Sangat Layak dan Paham Akar Masalah
Maling Gas Melon Beraksi di Sumberayu Muncar, Terekam CCTV Sebelum Gondol Tabung dan Perangkat CCTV – Polisi: Belum Ada Laporan Masuk
Polsek Muncar Gelar Patroli Blue Light, Antisipasi 3C dan Jaga Kamtibmas Malam Hari
Maling Bobol Warung di Sumberayu Muncar, Polisi Sebut Belum Ada Laporan
Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Aremania Panjatkan Doa dan Suarakan Keadilan di Balai Kota

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Silaturahmi Erat, KKSSI Dumai Barat Perkuat Sinergi Bersama Camat

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Janji Wali Kota Dumai Direalisasikan, Relawan P3 Akhirnya Dapat Penanganan Dokter Gigi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 03:25 WIB

Soal Polemik Bau Limbah Kotoran Sapi yang Diolah jadi Biogas, Satreskrim Polres Masih Tunggu Hasil Sampel Keluar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Golkar Tulungagung Sambut Positif Pelantikan M. Sarmuji Jadi Menperin: Sangat Layak dan Paham Akar Masalah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:49 WIB

Maling Gas Melon Beraksi di Sumberayu Muncar, Terekam CCTV Sebelum Gondol Tabung dan Perangkat CCTV – Polisi: Belum Ada Laporan Masuk

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Maling Bobol Warung di Sumberayu Muncar, Polisi Sebut Belum Ada Laporan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Aremania Panjatkan Doa dan Suarakan Keadilan di Balai Kota

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:44 WIB

Kronologi Toko Ogan Terbakar di Kota Malang, Seorang Pria Sempat Terjebak di Dalam Bangunan

Berita Terbaru