Malang, jejaring Indonesia.com – Tradisi larung sesaji umumnya dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas berkah, keselamatan, dan rezeki berupa hasil alam yang melimpah. Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol penghormatan manusia terhadap kelestarian alam dan lingkungan sekitar.
Seperti prosesi ritual atau grebek Sesaji Agung oleh ratusan masyarakat pesisir pantai Perawan Kamis (9/7/2026) berjalan meriah dengan arak-arakan budaya dan sakral. Kenapa? Berikut laporan langsung (Live Report) H. Mansyur Usman, wartawan media ini dari lokasi wisata Pantai Perawan Desa Sidoasri Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.
Ratusan warga Nelayan dan siswa dari semua lembaga yang ada di Desa Sidoasri Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang mengarak sesaji berupa hasil bumi, hasil laut, tumpeng raksasa nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk menuju Pantai Perawan di desa setempat.
Dengan didampingi Muspika Sumbermanjing Wetan, Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Kepala Desa beserta perangkat, Ketua TP. PKK Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Dewan guru, Ketua TP. PKK Desa Sidoasri, tokoh agama, tokoh adat dan beberapa tamu undangan. Itu sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah setempat terhadap pelestarian budaya yang sekaligus menjadi daya tarik pariwisata.
Tradisi larung sesaji ini dikemas meriah sebagai daya tarik wisata. Karena sebelum
dilarung ke laut lepas, barisan sangat semarak dengan penampilan tari oleh sebanyak 100 siswa SD dan SMP YBK serta iringan pasukan drumband dari SDN 5 Tambakasri.
Agar alam semesta beserta isinya tetap damai dan memohon perlindungan Tuhan dari segala marabahaya, sebelumnya dilakukan pembakaran dupa dan pelafalan ujub-ujub (doa/mantra) oleh Mbah Paiso sesepuh desa Sidoasri.
Pelafalan ujub-ujub itu merupakan pengantar niat, sedangkan pembakaran dupa, itu dipercaya sebagai media spiritual untuk mensucikan tempat, menciptakan suasana sakral, dan sebagai penghubung antara permohonan manusia dengan Sang Pencipta, sedangkan Asap dupa melambangkan doa yang membubung ke langit.
Sementara itu Kades Sidoasri Andiek Ismanto menandainya dengan pemukulan gong, itu sebagai pertanda dimulainya ritual, karena tabuh gong pada prosesi larung sesaji merupakan sarana komunikasi spiritual yang diyakini sebagai penghubung antara manusia dengan Tuhan dan leluhur.
Selain itu, peran seorang Kades sebagai pelindung, pemersatu warga. Tentunya, dia memastikan tradisi sedekah laut itu berjalan lancar, nilai budaya tetap lestari, dan menjadi motor penggerak gotong royong masyarakat pesisir.
“Petik laut ini merupakan hajat para nelayan, pemerintah Desa dan BUMDes. Melalui tradisi petik laut ini agar masyarakat selalu diberikan keselamatan saat melaut, rezeki hasil tangkapan ikan melimpah, serta tradisi dan kearifan lokal tetap lestari”, ungkap Andiek di temui seusai acara.
Terpisah, Camat Sumbermanjing Wetan, Nurul Huda S. Sos menjelaskan, kegiatan
petik laut ini merupakan bukti kepedulian masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat pesisir terutama nelayan kecil. Dengan rasa kebersamaan dalam membangun perekonomian di wilayah yang sangat jauh dari keramaian perkotaan ini bisa terpupuk.
Kemudian, lanjut dia, memupuk rasa syukur atas nikmat yang diperoleh dari sang Pencipta sehingga dengan interaksi antara kelas ekonomi yang mampu dan tidak mampu tidak ada batasan. Sehingga
Untuk membangun wilayah dalam hal ini tidak ketergantungan pada pemerintah pusat, tetapi itu diupayakan secara mandiri.
Editor: Diky Prasetyo












