MALANG, JEJARING INDONESIA.COM – Masyarakat Desa Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang kembali menggelar tradisi tahunan Kirab Jolen. Prosesi adat ini menjadi bagian utama dalam rangkaian acara Bersih Desa yang berlangsung khidmat pada Senin (29/6/2026).
Secara etimologi, istilah “Jolen” berakar dari falsafah Jawa “ojo lali” yang berarti jangan lupa. Makna mendalam di balik tradisi ini adalah sebuah pengingat agar masyarakat tidak melupakan asal-usul desa, sekaligus senantiasa mensyukuri limpahan nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Kepala Desa Tambakasri, Ngateno, menuturkan bahwa tradisi Ngarak Jolen merupakan warisan budaya khas keluhuran setempat yang terus dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi.
“Ngarak Jolen ini merupakan bagian dari rangkaian Bersih Desa, sekaligus momentum perayaan Hari Jadi Desa Tambakasri yang ke-117 tahun,” ujar Ngateno di sela-sela kemeriahan acara.
Sebelum memasuki puncak acara berupa pagelaran wayang kulit semalam suntuk, warga disuguhkan dengan berbagai hiburan kesenian tradisional.
Mulai dari atraksi pencak silat, pentas seni dari berbagai lembaga pendidikan, hingga penampilan kuda lumping yang menyedot perhatian warga.
Lebih lanjut, Ngateno menekankan bahwa rangkaian ritual adat ini juga diisi dengan ziarah ke makam para leluhur.
Salah satu punden utama yang dikunjungi adalah makam Mbah Kromo Dikin, sosok yang diyakini masyarakat sebagai tokoh babat alas atau pendiri cikal bakal Desa Tambakasri.
“Bersih Desa ini adalah tradisi turun-temurun.
Ini menjadi wujud syukur kami atas hasil bumi yang melimpah, sekaligus momen bersama untuk memohon perlindungan, kesehatan, serta rezeki yang halal dan berkah bagi seluruh warga,” imbuh Ngateno.
Di sisi lain, Tokoh Masyarakat Desa Tambakasri yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Malang, H. Mahrus Ali, menguraikan potensi wilayah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Desa Tambakasri dikenal memiliki komoditas unggulan berupa cengkeh dan kopi.
“Saat ini, sektor pertanian kami juga mulai merambah ke budidaya buah-buahan seperti durian dan manggis.
Tanaman-tanaman tersebut tumbuh sangat subur dan melimpah di desa kami, melengkapi komoditas utama yang sudah ada seperti cengkeh, kopi, pisang, dan kelapa,” jelas pria yang akrab disapa Gus Mahrus tersebut.
Menutup rangkaian acara, Gus Mahrus menaruh harapan besar agar tradisi ini dapat menjadi refleksi bagi generasi muda Desa Tambakasri. Ia berharap anak muda masa kini tidak kehilangan jati diri dan tetap menghormati sejarah perjuangan para pendahulu.
“Generasi sekarang harus selalu ingat bagaimana perjuangan dan tetesan keringat nenek moyang kita dulu dalam membangun desa ini,” pungkas Gus Mahrus.
Jurnalis: H. Mansyur
Editor: Diky Prasetyo












