MALANG, Jejaringindonesia.com — Puskesmas Wonokerto, Kabupaten Malang, masuk dalam Environmental Health Competition (EHC) tingkat Jawa Timur pada kategori Puskesmas Pelopor Kesling Plus. Tahapan tersebut kini berlanjut dengan verifikasi lapangan oleh tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Verifikasi dilakukan untuk melihat penerapan Kesling Plus secara langsung di Puskesmas Wonokerto. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga mencakup pengelolaan air, sanitasi, sampah dan limbah, limbah medis, B3, efisiensi energi, perubahan iklim, hingga manajemen fasilitas pelayanan kesehatan.
Koordinator Tim Verifikasi Lapangan EHC Kesling Plus, Anik Madyawati, ST., M.AP, mengatakan Kesling Plus merupakan pengembangan dari penerapan kesehatan lingkungan yang menuntut perubahan lebih menyeluruh di lingkungan puskesmas.
“Kalau Puskesmas Kesling Plus itu adalah puskesmas yang melakukan perubahan dari Kesling yang biasa menjadi Kesling yang lebih bersih, lebih sehat dari segi perilaku, sarana-prasarana yang ada di puskesmas,” terang Anik.
Menurutnya, sejumlah indikator menjadi perhatian dalam verifikasi di Puskesmas Wonokerto. Selain pengelolaan sampah dan air, tim melihat pengelolaan limbah, limbah medis, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta kebersihan lingkungan.
Kesling Plus juga memperluas penilaian pada tata kelola, efisiensi energi, pemanfaatan cahaya alami, penghijauan, efisiensi penggunaan air dan pengelolaan limbah. Pemanfaatan kembali limbah menjadi bagian dari pendekatan menuju zero waste.
Aspek inklusivitas turut menjadi perhatian melalui penerapan GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion). Salah satunya terkait ketersediaan fasilitas sanitasi bagi penyandang disabilitas.
“Memang beberapa sarana yang kita fokuskan salah satunya untuk difabel yaitu GEDSI. Jadi itu salah satu yang ingin kami lihat, dimana yang awalnya puskesmas dulu hanya menyediakan kamar mandi biasa, sekarang sudah menyediakan kamar mandi yang GEDSI,” jelasnya.
Dalam verifikasi tersebut, tim juga memberikan masukan mengenai standar aksesibilitas. Salah satunya berkaitan dengan ukuran pintu dan akses masuk agar fasilitas dapat digunakan secara lebih sesuai oleh penyandang disabilitas.
“Kalau terkait sarana-prasarana mungkin pelan-pelan untuk selanjutnya perbaikannya,” kata Anik.
Sementara itu, anggota tim verifikasi dari Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Jawa Timur, Winarko, SKM., M.Kes, menegaskan EHC tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar penghargaan.
Menurutnya, penerapan Kesling Plus diharapkan berkembang menjadi budaya mutu di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
“Sesungguhnya yang kita harapkan ini menjadi budaya mutu, sebenarnya bukan prestasi atau penghargaan yang diharapkan. Kita mengharapkan menjadi budaya mutu semua fasyankes,” ujar Winarko.
Ia menjelaskan, pendekatan Kesling Plus mencakup pengelolaan sampah, air, limbah, limbah medis, B3 dan kebersihan. Aspek tersebut kemudian diperluas melalui tata kelola, efisiensi sumber energi, pemanfaatan cahaya alami, penghijauan serta efisiensi penggunaan air dan limbah.
Penghijauan juga menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Keberadaan tanaman berkaitan dengan penyerapan karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis.
Selain itu, pemanfaatan kembali limbah menjadi perhatian dalam penerapan konsep zero waste di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan.
Winarko mengatakan proses verifikasi melibatkan mitra lintas lembaga untuk memperluas perspektif dalam penilaian kesehatan lingkungan.
“Ini kami melibatkan mitra dari kesehatan supaya kesehatan tidak hanya punya perspektif sendiri,” katanya.
Tim verifikasi terdiri dari Anik Madyawati, ST., M.AP dan Arief Firman W., SKM dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, M. Afrianto Kurniawan, ST., M.Sc dari UNICEF, serta Winarko, SKM., M.Kes dari HAKLI Jawa Timur.
Verifikasi lapangan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan beserta jajaran, Danramil, Kapolsek, Camat dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Dengan masuknya Puskesmas Wonokerto dalam EHC tingkat Jawa Timur, verifikasi lapangan menjadi tahapan penting untuk melihat kesesuaian antara dokumen dan penerapan Kesling Plus secara langsung di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
Penulis : Ashril
Editor : Diky P.












