BANYUWANGI, Jejaringindonesia.com — Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi kembali memanjang hingga lebih dari 15 kilometer hingga wilayah Wongsorejo. Antrean terpanjang didominasi truk logistik yang hendak menyeberang ke Gilimanuk, Bali.
DPP Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan / Gapasdap menegaskan, kemacetan ini bukan disebabkan minimnya jumlah kapal penyeberangan.
Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan, saat ini ada 56 armada yang melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk. Dalam kondisi normal, 28 hingga 32 kapal dapat beroperasi setiap hari.
“Kini jumlah kapal yang dapat melayani kendaraan hanya sekitar 23 armada. Penyebabnya, dua fasilitas dermaga tidak dapat digunakan secara optimal,” ujar Khoiri kepadaJejaringindonesia.com. Sabtu (5/9/2026).
Salah satu titik krusial adalah Dermaga MB II yang ditutup sejak 21 Agustus 2026 untuk proyek peningkatan kapasitas pelabuhan. Proyek tersebut dijadwalkan berlangsung hingga Maret 2027. Selain itu, kondisi dermaga lain seperti Bulusan juga mengalami kerusakan sehingga tidak bisa difungsikan maksimal.
“Kapalnya tersedia, tetapi tempat sandarnya berkurang. Kapal hanya dapat melayani kendaraan apabila tersedia dermaga dan fasilitas bongkar muat yang memadati,” jelasnya.
Akibat keterbatasan dermaga, proses bongkar muat menjadi terhambat. Dampaknya, terjadi penumpukan kendaraan di jalur nasional Banyuwangi-Situbondo dan mengganggu kelancaran distribusi logistik nasional wilayah Jawa-Bali.
Gapasdap berharap ASDP, Kementerian Perhubungan, dan Pemkab Banyuwangi segera mencari solusi percepatan, baik dengan mengoptimalkan dermaga yang masih beroperasi maupun percepatan proyek, agar arus logistik tidak semakin tersendat.
Jurnalis: Boby Try
Editor: Diky Prasetyo












