BANYUWANGI, Jejaringindonesia.com — Ada orang yang dikenal karena jabatan. Ada pula yang dikenang karena bagaimana ia hadir di tengah masyarakat.
H. Junaedi, yang akrab disapa Bang Jo, termasuk sosok yang dikenal luas dalam pergaulan masyarakat Muncar dan Banyuwangi Selatan. Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, ia tetap membangun ruang komunikasi yang cair dengan berbagai lapisan masyarakat.
Bagi sebagian orang, kesuksesan terkadang menciptakan jarak. Namun dalam kehidupan sosial, ukuran keberhasilan justru sering terlihat dari kemampuan seseorang tetap membumi.
Bang Jo dikenal sebagai pribadi yang terbuka, mudah bergaul, dan tidak berjarak dalam berkomunikasi. Relasinya tidak berhenti di lingkungan bisnis maupun tokoh masyarakat, tetapi juga tumbuh bersama komunitas dan generasi muda.
Salah satu ruang yang memperlihatkan kedekatan tersebut adalah keterlibatannya dalam Keluarga Besar Sound System Banyuwangi (KBSB).
Sebagai Pembina KBSB, Bang Jo memiliki ruang interaksi dengan para pelaku dan pegiat sound system yang sebagian besar merupakan generasi muda. Di sana, hubungan tidak hanya dibangun melalui struktur organisasi, tetapi melalui silaturahmi, komunikasi dan kebersamaan.
Komunitas seperti KBSB memiliki potensi sosial yang besar. Di balik perangkat sound system, panggung hiburan dan kegiatan masyarakat, terdapat kreativitas anak muda, jejaring ekonomi, sekaligus ruang aktualisasi.
“Mendekati pemuda tidak selalu harus melalui forum resmi. Kadang cukup dengan duduk bersama, mendengarkan cerita mereka, memahami kegelisahan mereka, dan memberi ruang agar mereka merasa dihargai,” ujar salah satu pegiat KBSB.
Di titik inilah figur seperti Bang Jo memperoleh ruang sosialnya.
Menjadi pengusaha tentu memiliki konsekuensi kesibukan. Dunia usaha menuntut konsentrasi dan keberanian mengambil keputusan.
Namun, keberhasilan ekonomi tidak harus membuat seseorang kehilangan kedekatan dengan lingkungannya.
Bang Jo justru dikenal tetap membangun komunikasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Sikap sederhana dan kemudahan bergaul menjadi jembatan yang membuat hubungan sosialnya berkembang secara natural.
Sebab masyarakat pada dasarnya tidak selalu mencari figur paling sempurna. Masyarakat sering kali hanya membutuhkan seseorang yang mau hadir, mau mendengar, dan tidak membuat mereka merasa kecil ketika berbicara.
Dalam kehidupan keluarga, nama H. Junaedi dikenal sebagai suami dari Desi Prakasiwi, anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dari Fraksi PDI Perjuangan.
Namun, kiprah Bang Jo tetap memiliki ruang tersendiri sebagai pengusaha, pembina komunitas, dan bagian dari kehidupan sosial masyarakat Muncar serta Banyuwangi Selatan.
Sementara Desi Prakasiwi memiliki ruang pengabdian melalui jalur politik dan kelembagaan sebagai wakil rakyat.
Dua ruang tersebut memiliki karakter berbeda. Yang satu tumbuh dari relasi sosial dan dunia usaha, sementara yang lain memperoleh mandat melalui representasi politik. Tetapi keduanya bertemu pada satu nilai yang sama: kedekatan dengan masyarakat.
Banyuwangi Selatan memiliki energi sosial yang besar. Pemudanya bergerak di banyak bidang: seni, hiburan, olahraga, komunitas, ekonomi kreatif hingga kegiatan sosial.
Energi tersebut membutuhkan ruang, bukan sekadar pengarahan. Mereka membutuhkan figur yang dapat menjadi teman berdiskusi, bukan hanya orang yang datang ketika membutuhkan dukungan.
Jika hubungan tersebut mampu diarahkan menjadi kegiatan produktif, penguatan ekonomi kreatif, pelatihan keterampilan, dan ruang kreativitas, maka silaturahmi dapat berkembang menjadi social capital yang memberikan manfaat lebih luas.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari seberapa banyak pintu yang tetap terbuka ketika ia berada di tengah masyarakat.
Bang Jo telah memiliki ruang pergaulan yang luas. Tantangan ke depan adalah bagaimana jejaring tersebut dapat terus menjadi energi positif bagi masyarakat dan generasi muda Banyuwangi Selatan.
Selain dekat dengan kalangan pemuda, Bang Jo juga dikenal memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan pesantren dan kalangan ulama di Banyuwangi. Relasi tersebut menjadi bagian dari luasnya jaringan silaturahmi yang dibangun Bang Jo.
Karena politik, bisnis dan komunitas pada akhirnya memiliki satu titik temu: manusia.
Dan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, mungkin inilah bentuk kepemimpinan sosial yang paling sederhana sekaligus paling bermakna: tetap sukses tanpa kehilangan kerendahan hati, tetap memiliki pengaruh tanpa menciptakan jarak, dan tetap tumbuh tanpa lupa dari mana semuanya bermula.
Jurnalis: Boby Try
Editor: Diky Prasetyo












