MALANG, JEJARING INDONESIA – Prosesi wisuda siswa kelas VI SDN 3 Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, dipastikan bakal berlangsung meriah dengan nuansa budaya Jawa yang kental.
Acara pelepasan siswa yang dijadwalkan pada Kamis, 11 Juni 2026 mendatang ini akan diwarnai oleh penampilan seni tradisional Gending Kebo Giro dan Tari Cucuk Lampah.Gending Kebo Giro merupakan salah satu komposisi musik gamelan klasik ciptaan Sunan Kalijaga yang populer sekaligus disakralkan. Dalam acara ini, alunan musik tersebut akan mengiringi langkah para siswa saat memasuki ruangan prosesi wisuda.
Selain musik tradisi, prosesi kelulusan untuk 13 siswa kelas VI ini juga akan dipandu oleh Tari Cucuk Lampah. Tarian tradisional ini melambangkan pembuka jalan, penolak bala, pembersih rintangan, sekaligus doa keselamatan agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar dari awal hingga akhir.
Kepala SDN 3 Kedungbanteng, Djoko Budi Santoso, S.Pd.SD., menjelaskan bahwa para calon wisudawan dan wisudawati nantinya akan berjalan beriringan dari pintu gerbang sekolah menuju ruang utama wisuda.”Penari Cucuk Lampah bertugas sebagai pembuka jalan.
Mereka bergerak dengan luwes, memimpin barisan yang diikuti oleh jajaran dewan guru, Kepala Sekolah, calon wisudawan-wisudawati, orang tua, dan tamu undangan menuju ruang wisuda,” ujar Djoko saat ditemui pada Senin (8/6/2026).
Djoko menambahkan, selama empat tahun masa kepemimpinannya sebagai kepala sekolah di SDN 3 Kedungbanteng, meluluskan siswa kelas VI tahun ini menjadi momen yang keempat kalinya. Namun, jumlah wisudawan tahun ini tercatat sebagai yang paling sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dari total 117 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut, hanya 13 anak yang berada di bangku kelas VI.Meski secara kuantitas tergolong sedikit, pencapaian akademik sekolah ini tetap membanggakan dengan tingkat kelulusan yang mencapai 100 persen.
Nilai ijazah tertinggi yang diraih siswa memiliki rata-rata 88.”Kami memohon maaf karena belum bisa mengantarkan anak-anak dengan predikat yang lebih tinggi. Untuk nilai ijazah tertinggi rata-rata mencapai 88,” kata Djoko.
Dalam kesempatan tersebut, Djoko juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada berbagai pihak yang telah mendukung kemajuan sekolah.
Apresiasi ditujukan kepada Pemerintah Desa setempat atas kontribusinya dalam pembangunan lingkungan sekolah.
Ucapan terima kasih juga dialamatkan kepada ketua paguyuban, komite sekolah, masyarakat, serta wali murid yang selalu mendampingi proses belajar anak-anak.
Secara khusus, Djoko memberikan penghormatan kepada jajaran dewan guru atas dedikasi dan pengorbanan mereka dalam mendidik para siswa. Ia menyebut para guru sebagai arsitek masa depan bangsa yang tanpa lelah membentuk karakter siswa hingga berhasil mengantarkan mereka ke gerbang kelulusan.
Jurnalis: H. Mansyur
Editor: Diky Prasetyo












