Tanggalkan Seragam Cokelat, Mantan Perwira Polisi di Malang Setia Jadi Tukang Tambal Ban

1778814006695

MALANG, JEJARING INDONESIA – Kisah inspiratif datang dari dunia Korps Bhayangkara di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Seorang perwira pertama polisi menunjukkan teladan luar biasa tentang integritas, kesederhanaan, dan kerja keras yang tidak luntur meski seragam dinasnya kini telah ditanggalkan, Jumat (15/5/2026).

Ia adalah IPDA Solikin, purnawirawan Polri yang kini memilih setia melakoni profesi sebagai tukang tambal ban di rumahnya, Jalan Raya Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Mantan Kanit Samapta Polsek Pagak, Polres Malang ini resmi memasuki masa purna tugas (pensiun) per 1 November 2025 lalu.

1778813502653Alih-alih bersantai menikmati masa tua, Solikin justru langsung tancap gas memfokuskan diri mengelola bengkel tambal ban untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Menariknya, dunia montir dan tambal ban sama sekali bukan hal baru baginya. Profesi ini ternyata sudah ia rintis sejak tahun 2004 silam.

Selama 38 tahun menjadi anggota Polri aktif, Solikin konsisten membagi waktu untuk melayani warga yang mengalami bocor ban di sela-sela kesibukan dinas kepolisiannya.

Saat ditanya mengenai transisi profesinya dari seorang perwira polisi menjadi pengusaha tambal ban, Solikin mengaku sama sekali tidak merasa canggung atau turun kasta.”Saya tidak ada gengsinya, baik saat masih berdinas aktif maupun setelah pensiun sekarang,” ujar Solikin dengan tegas.

Bagi purnawirawan berpangkat balok satu ini, seragam cokelat kepolisian maupun baju bengkel yang penuh oli memiliki nilai yang sama di matanya.

Keduanya sama-sama mulia karena esensinya adalah memberikan pelayanan dan bantuan nyata kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kini, setelah sepenuhnya purnatugas, Solikin berharap usaha bengkel yang ia tekuni secara penuh ini bisa terus berjalan lancar, bermanfaat bagi warga sekitar, serta membawa keberkahan bagi keluarganya.

Kisah IPDA Solikin menjadi tamparan keras sekaligus refleksi positif di tengah masyarakat. Ia membuktikan secara nyata bahwa pangkat, jabatan, dan seragam hanyalah titipan sementara, namun semangat pengabdian dan kesederhanaan sejati akan terus melekat seumur hidup.

Jurnalis: Diky Prasetyo