Syamsul Mu’arif Dorong Regenerasi Kepemimpinan dalam Musran NU Ringinkembar 2026-2031

IMG-20260421-WA0073

MALANG, JEJARING INDONESIA – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Ringinkembar, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, bersiap menggelar Musyawarah Ranting (Musran) untuk menentukan nakhoda baru masa khidmat 2026-2031. Perhelatan ini dijadwalkan berlangsung di Kantor Desa Ringinkembar pada Ahad, 26 April 2026 mendatang.

 

Ketua PRNU Ringinkembar masa bakti 2021-2026, Syamsul Mu’arif, menyatakan dukungannya terhadap proses regenerasi dalam tubuh organisasi. Meski masa jabatannya baru berakhir secara resmi pada Oktober 2026, ia berharap muncul sosok baru yang mampu membawa ide-ide segar bagi kemajuan NU di Ringinkembar.

“Dengan kondisi usia saya, kalau bisa harus ada regenerasi. Hal ini penting untuk menjamin keberlanjutan organisasi agar tidak bergantung pada satu figur saja,” ujar Syamsul saat ditemui pada Selasa (21/4/2026).

Pria yang juga menjabat sebagai Kaur Kesra Desa Ringinkembar ini meninggalkan warisan program yang sukses, salah satunya adalah pengelolaan Koin NU (Kotak Infaq Nahdlatul Ulama). Sejak digagas tahun 2024, program filantropi ini berhasil menghimpun dana jamaah secara mandiri dengan rata-rata pendapatan Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan.

“Koin NU ini adalah simbol kemandirian ekonomi kita. Hasilnya langsung dirasakan warga, mulai dari bantuan sosial untuk warga yang tertimpa musibah hingga pembiayaan program pendidikan dan kesehatan umat,” imbuhnya.

1776768029686Di sisi lain, Ketua Panitia Musran, H. Zainulloh, menjelaskan bahwa agenda utama Musran nanti adalah pemilihan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah.

Menanggapi sinyal “pensiun” dari Syamsul Mu’arif, Zainulloh mengaku masih membuka kemungkinan jika jamaah tetap menghendaki kepemimpinan Syamsul berlanjut.

“Jika memang beliau (Syamsul) menyatakan tidak siap karena faktor kesehatan dan usia, kami tentu berharap ada nama lain yang bersedia melanjutkan estafet ini,” kata Zainul.

Zainul menegaskan, apa pun hasil Musran nanti, semangat pengabdian harus tetap dijunjung tinggi.

Menurutnya, menjadi warga Nahdliyin bukan sekadar soal jabatan struktural, melainkan pengabdian tulus kepada umat dan organisasi.

 

Jurnalis: H. Mansyur

Editor: Diky