Mulyorejo Jadi Lokus Gerakan Tanam Padi Serentak Jawa Timur di Kota Malang
MALANG KOTA, JEJARING INDONESIA – Lahan persawahan di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, terpilih menjadi titik pusat (lokus) pelaksanaan Gerakan Tanam Serentak (GTS) komoditi padi se-Jawa Timur untuk wilayah Kota Malang.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, meninjau langsung lokasi tersebut bersama PPL Kementerian Pertanian dan personel Satker pada Selasa (21/04/2026).
Peninjauan ini dilakukan guna memastikan kesiapan lahan seluas kurang lebih 10 hektar yang akan memulai masa tanam pada minggu ini.
Slamet menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiasi Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan. Fokus utamanya adalah meningkatkan indeks pertanaman (IP) petani.
“Tujuannya adalah menambah masa tanam atau injek pertanaman. Yang semula hanya satu kali tanam setahun, didorong menjadi dua kali, bahkan bisa mencapai 2,5 hingga 3 kali tanam dalam setahun,” terang Slamet.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi nasional menuju swasembada pangan, khususnya komoditi beras di Jawa Timur dan Kota Malang.
Slamet menambahkan, saat ini kondisi petani cukup terbantu dengan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang mencapai Rp 6.500 per kilogram, sesuai batas acuan pemerintah. Selain itu, ketersediaan pupuk subsidi di Kota Malang dipastikan dalam kondisi aman.
Pemilihan Mulyorejo sebagai pusat gerakan kali ini didasarkan pada siklus tanam yang tepat. Sementara wilayah lain seperti Kecamatan Kedungkandang, Blimbing, dan Lowokwaru rata-rata sudah memasuki usia tanam 30 hari.
“Kebetulan minggu ini yang ada giat tanam padi di Kelurahan Mulyorejo. Perbedaan waktu tanam antarwilayah ini lumrah terjadi agar petani bisa berbagi tenaga kerja untuk olah tanah maupun saat panen nanti,” tambahnya.
Berdasarkan data Dispangtan, Kecamatan Sukun memiliki total lahan baku sawah seluas 141 hektar.
Sebaran lahan tersebut meliputi Mulyorejo (40 ha), Bakal Krajan (44 ha), Bandulan (10 ha), Bandungrejosari (13 ha), Kebonsari (24 ha), dan Gadang (10 ha). Varietas yang mendominasi adalah Inpari 32 dan Cibogo, yang dinilai kuat untuk mengantisipasi musim kemarau.
Meski bersiap menghadapi kemarau, Slamet menyebutkan bahwa menurut prakiraan BMKG, wilayah Jawa Timur masih akan diguyur hujan hingga akhir April. Sebagai informasi tambahan, Kecamatan Kedungkandang tetap menjadi penyumbang lahan sawah terluas di Kota Malang dengan total luas mencapai kurang lebih 400 hektar. (Ria)





