Turnamen Kades Cup I Sumbersewu Tercoreng Judi, Berlangsung Nyaris Tiap Malam

- Redaktur

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANYUWANGI,Jejaringindonesia.com – Dibalik meriahnya Turnamen Bola Voli “KADES CUP I SUMBERSEWU 2026” di Lapangan Pringgodani, yang berada di belakang Kantor Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, tercoreng adanya praktik perjudian “Cap Tjikie” atau yang oleh masyarakat umum disebut “Bola Setan”.

Praktik yang disebut berlangsung hampir setiap malam selama turnamen digelar, menjadi tontonan tersendiri di luar arena pertandingan. Aktivitas tersebut bahkan berlangsung hingga larut malam, bersamaan dengan ramainya pertandingan bola voli.

Turnamen yang diikuti puluhan tim putra dan putri dari berbagai wilayah sekitar itu, dijadwalkan berlangsung setiap malam. Pertandingan bola voli dimulai sekitar pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.

Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun dan pantauan dilokasi pada Sabtu (3/10/2026) malam, aktivitas perjudian Cap Tjikie justru disebut telah berlangsung sebelum pertandingan bola voli dimulai dan terus berjalan hingga pertandingan berakhir.

Ironisnya, aktivitas tersebut bukan baru berlangsung satu atau dua kali. Sejumlah informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, permainan Cap Tjikie telah berlangsung secara rutin selama kurang lebih dua pekan sejak turnamen resmi dimulai.

Bahkan muncul anggapan di tengah masyarakat, bahwa keberadaan permainan tersebut seolah menjadi bagian dari keramaian turnamen.

“Kalau turnamen bola voli tidak ada permainan judi, kurang ramai,” ungkapan salahsatu warga yang berada di sekitar lapangan.

Pernyataan semacam itu tentu menjadi perhatian serius. Sebab, sebuah kegiatan olahraga yang semestinya menjadi ruang hiburan sehat, ajang silaturahmi, sekaligus wadah pembinaan prestasi generasi muda, justru dibarengi adanya aktivitas perjudian.

Informasi lain yang dihimpun menyebutkan, para pemain maupun penjudi yang datang ke lokasi tersebut tidak seluruhnya berasal dari Desa Sumbersewu.

Mereka disebut datang dari sejumlah kecamatan sekitar dan sengaja mendatangi lokasi untuk mengikuti permainan Cap Tjikie.

Aktivitas tersebut bahkan disebut berlangsung hingga larut malam, bergantung pada situasi dan jumlah orang yang ikut memasang taruhan.

Salah seorang warga lainnya yang ditemui awak media mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut.

“Bendino judi opo memang gampang golek duit. Yen aku yo eman duit gawe judi,” ujarnya.

Yang lebih serius, beredar informasi bahwa aktivitas perjudian tersebut disebut-sebut memiliki “backing” dari oknum satuan tertentu yang berpusat di Muncar.

Namun, informasi mengenai dugaan keterlibatan atau backing aparat tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh awak media.

Karena itu, informasi tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan kesimpulan. Jika benar terdapat pihak tertentu yang memberikan perlindungan terhadap praktik perjudian, persoalan ini tentu menjadi jauh lebih serius dan perlu diusut secara transparan oleh aparat penegak hukum.

Untuk memastikan kebenaran informasi adanya aktivitas perjudian Cap Tjikie, awak media kemudian melakukan penelusuran ke lokasi yang disebut menjadi tempat berlangsungnya permainan tersebut.

Lokasinya berada sekitar ±250 meter dari lapangan turnamen, melewati gang berpaving yang berada di sekitar permukiman warga.

Dari penelusuran tersebut, terdengar riuh suara orang yang tengah mengikuti permainan Cap Tjikie.

Lokasi tersebut berada di sebuah area yang relatif tersembunyi, sedikit masuk dan tertutup rimbunan pohon bambu. Di sekitar lokasi terdapat halaman kosong yang posisinya berada di samping rumah warga.

Kondisi lokasi yang tidak berada langsung di area utama turnamen, membuat aktivitas tersebut relatif tidak terlihat dari arena pertandingan. Namun, suara keramaian dari lokasi permainan terdengar cukup jelas ketika awak media melakukan penelusuran.

Yang juga menjadi tanda tanya adalah sikap sebagian warga sekitar, yang terkesan memilih tidak ikut campur terhadap keberadaan aktivitas tersebut.

Sejumlah informasi menyebutkan, masyarakat mengetahui adanya permainan tersebut, namun memilih bersikap pasif dengan alasan apabila terjadi persoalan, masing-masing harus menanggung risikonya sendiri.

Situasi semacam ini tentu patut menjadi perhatian. Sebab, pembiaran terhadap dugaan perjudian di lingkungan permukiman berpotensi membuat aktivitas tersebut dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan lama-kelamaan kehilangan kontrol sosial dari masyarakat.

Apalagi, lokasi permainan disebut berada tidak jauh dari pusat kegiatan olahraga yang setiap malam dipadati masyarakat dan para penonton.

Turnamen olahraga seharusnya menjadi momentum positif bagi masyarakat. Semangat sportivitas, persaudaraan, pembinaan atlet serta hiburan sehat semestinya menjadi wajah utama sebuah kompetisi.

Karena itu, munculnya praktik perjudian di sekitar kegiatan tersebut menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.

Pertanyaan besarnya bukan sekadar “ada atau tidak permainan Cap Tjikie”, tetapi juga siapa yang mengetahui, siapa yang mengawasi, dan bagaimana aktivitas tersebut bisa berlangsung berulang kali selama turnamen berjalan?

Kini publik menunggu langkah konkret aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti informasi mengenai aktivitas perjudian tersebut.

Bukan hanya memastikan ada atau tidaknya permainan, tetapi juga mengungkap siapa penyelenggara, siapa saja yang terlibat, serta apakah terdapat pihak tertentu yang memberikan perlindungan terhadap aktivitas tersebut.

Begitu pula pihak penyelenggara dan pemerintah desa, perlu memberikan penjelasan mengenai sejauh mana pengawasan terhadap lingkungan sekitar lokasi turnamen dilakukan.

Sebab, jangan sampai di tengah sorak-sorai masyarakat menyaksikan pertandingan bola voli dan mengagungkan sportivitas, justru di balik keramaian tersebut tumbuh praktik yang bertolak belakang dengan nilai olahraga.

Turnamen boleh meriah, pertandingan boleh sengit, tetapi jangan sampai perjudian justru ikut menjadi “permainan” yang dibiarkan hidup di baliknya.

 

Jurnalis: Boby Try Setya

Editor: Hafid

Berita Terkait

PKB Tulungagung Tegas Tolak Gerai Miras, Plt Bupati Beri Respons.
Dua Pelajar Terluka Usai Motor Vario Tabrak Pohon di Kebalenan Banyuwangi
Laka Maut di Siliragung Banyuwangi: Pengendara Tewas Usai Belok Mendadak di Depan Balai Desa
Miris! Pelajar 14 Tahun Meninggal di Tikungan IBRA Lemahbang Kulon, Motor Tabrak Dump Truk
Krisis Air Bersih, Polsek Donomulyo Salurkan 2.000 Liter ke Warga Sumberejo
Dua Guru RA Al Jauhar Ngijo Berprestasi dalam Gemilang RA, Raih Juara 1 dan Juara 2 Tingkat Kecamatan
Makhrus Soleh Resmi Nahkodai ICMI Kabupaten Malang
Geger Penemuan Bayi Laki-laki Masih Hidup di Kalibaru Wetan Banyuwangi
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:15 WIB

PKB Tulungagung Tegas Tolak Gerai Miras, Plt Bupati Beri Respons.

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Turnamen Kades Cup I Sumbersewu Tercoreng Judi, Berlangsung Nyaris Tiap Malam

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:18 WIB

Dua Pelajar Terluka Usai Motor Vario Tabrak Pohon di Kebalenan Banyuwangi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Laka Maut di Siliragung Banyuwangi: Pengendara Tewas Usai Belok Mendadak di Depan Balai Desa

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Miris! Pelajar 14 Tahun Meninggal di Tikungan IBRA Lemahbang Kulon, Motor Tabrak Dump Truk

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 05:23 WIB

Dua Guru RA Al Jauhar Ngijo Berprestasi dalam Gemilang RA, Raih Juara 1 dan Juara 2 Tingkat Kecamatan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 04:54 WIB

Makhrus Soleh Resmi Nahkodai ICMI Kabupaten Malang

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 00:34 WIB

Kondisi Arus Lalu Lintas Menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Masih Lancar

Berita Terbaru