BANYUWANGI, Jejaringindonesia.com – Ada fenomena menarik yang saya alami sebagai wartawan di Banyuwangi dalam berkomunikasi dengan beberapa oknum Aparat Penegak Hukum (APH).
Dulu, saat masih menjabat sebagai Kapolsek dan Kanit Reskrim di salah satu Polsek jajaran Polresta Banyuwangi, dua oknum ini dikenal sangat baik, ramah, dan fast respon. Setiap saya hubungi via WhatsApp untuk konfirmasi berita, detik itu juga dibalas. Bahkan tengah malam pun masih sempat membalas. Luar biasa pelayanannya saat itu.
Namun pemandangan itu berubah 180 derajat setelah keduanya pindah tugas ke Mapolresta Banyuwangi.
Kini, nomor WhatsApp yang dulu aktif itu seolah berubah menjadi hiasan. Chat dari saya hanya centang dua, telepon tidak diangkat, dan konfirmasi berita yang seharusnya menjadi hak publik seakan diabaikan. Padahal jabatan di Mapolresta notabene lebih strategis dan seharusnya lebih terbuka dengan informasi.
Ada apa? Apakah kesibukan di Mapolresta memang sepadat itu hingga tidak ada waktu 10 detik untuk membalas pesan wartawan? Atau memang ada pepatah baru: Jabatan naik, keramahan turun?
Padahal, di era Polri Presisi yang digaungkan Kapolri, kecepatan respon dan keterbukaan informasi adalah kunci membangun kepercayaan publik. Jika saat di Polsek saja bisa fast respon, seharusnya saat di Mapolresta bisa lebih profesional, bukan malah terkesan anti kritik dan alergi wartawan.
Saya menulis ini bukan untuk menuduh, hanya mengingatkan sebagai mitra Polri. Jangan sampai masyarakat menilai baiknya oknum hanya saat butuh pencitraan di Polsek, setelah duduk empuk di Mapolresta, pintu komunikasi langsung tertutup rapat.
Karena bagi saya, pejabat yang baik itu konsisten. Bukan baik pas masih di bawah, lalu lupa saat sudah di atas.
Penulis: Boby Tri Setya












