Luka Kanjuruhan Belum Reda, Penolakan Laga Arema vs Persebaya Menguat

IMG-20260404-WA0054(2)

Malang, Jejaring Indonesia — Rencana digelarnya laga panas antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan kembali memantik penolakan dari keluarga korban tragedi 1 Oktober 2022. Bagi mereka, stadion tersebut masih menyimpan duka yang belum usai, bukan sekadar tempat pertandingan sepak bola.
Penolakan itu disuarakan melalui aksi doa dan diam yang digelar Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) di kawasan Gate 13 Stadion Kanjuruhan, Jumat (3/4/2026). Lokasi tersebut dipilih karena menjadi salah satu titik paling kelam dalam peristiwa yang merenggut ratusan nyawa.

Ketua YKTK, Devi Atok, bersama sejumlah pengurus dan keluarga korban memimpin langsung kegiatan tersebut. Mereka juga mendapat dukungan dari elemen mahasiswa, salah satunya dari Universitas Brawijaya, yang turut hadir menyampaikan solidaritas.
Dalam aksi itu, peserta membentangkan sejumlah poster berisi pesan emosional. Intinya, mereka menilai rencana menghadirkan laga rivalitas tinggi di tempat tragedi justru berpotensi membuka kembali luka lama yang belum pulih.

Selain menggelar doa bersama, perwakilan YKTK juga bergerak ke Mapolres Malang untuk menyerahkan surat resmi penolakan. Ada tiga poin utama yang disampaikan, yakni trauma yang belum sembuh, minimnya empati penyelenggara, serta tingginya risiko keamanan jika laga tetap digelar.
Menurut mereka, pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya termasuk kategori berisiko tinggi, sehingga dikhawatirkan memicu ketegangan baru di tengah kondisi psikologis keluarga korban yang masih rentan.

Di sisi lain, suara keprihatinan juga datang dari internal aparat keamanan. Sejumlah anggota kepolisian yang pernah bertugas saat tragedi berlangsung disebut masih menyimpan trauma, sehingga berharap pertandingan tersebut tidak digelar di Kanjuruhan dalam waktu dekat.

Hingga kini, jadwal pertandingan masih tercantum akan berlangsung pada 28 April 2026. Namun, desakan dari keluarga korban membuat publik menanti keputusan lanjutan dari pihak berwenang, apakah akan tetap melaksanakan laga atau mencari alternatif demi menjaga situasi tetap kondusif.

 

Jurnalis: Hafid

Editor: Diky Prasetyo