MALANG, Jejaringindonesia.com – Osob Kiwalan atau boso walikan kembali menjadi perhatian semua pihak. Bahasa khas Malang yang lahir dari perjalanan sejarah dan pergaulan masyarakat ini didorong tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tapi juga kembali hadir dalam kehidupan generasi sekarang.
Upaya itu salah satunya dilakukan Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo PS dengan mempertemukan sejumlah tokoh lintas sektor dalam Podcast Ngalam Hebak, yang digelar di sebuah kafe di Kawasan Kayutangan Heritage, Selasa malam (29/09/2026).
Podcast sebagai kelanjutan dari Deklarasi Ngalam Hebak ini mengusung tema Dari Osob Kiwalan Menuju Masa Depan Malang Raya.
Forum tersebut mempertemukan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Penasihat Ahli Kapolri Prof. Hermawan Sulistyo, akademisi Universitas Brawijaya Dr. Ahmad Imron Rozuli, SE., M.Si yang juga Dekan FISIP UB, Pengamat Kepolisian ISSES Bambang Rukminto, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM Dr. Rinekso Kartono, M.Si, Dr. Drs. Mohammad Solikin, M.Si yang juga jurnalis senior, dan Ketua Umum PISHI Dr. Wadji.
Sam Danang, panggilan akrab Kapolresta Malang Kota, mengatakan kekhawatiran terhadap semakin berkurangnya penggunaan Osob Kiwalan menjadi salah satu alasan pentingnya membuka ruang dialog dan gerakan pelestarian.
Menurutnya, Osob Kiwalan memiliki nilai lebih dari sekadar permainan bahasa.
“Osob Kiwalan bukan sekadar membalik kata. Di dalamnya ada sejarah dan solidaritas masyarakat Malang,” ujar Danang.
Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya dengan mengumpulkan atau mendokumentasikan kosakata. Bahasa tersebut harus tetap digunakan agar tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
“Tujuannya bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memastikan identitas itu tetap hidup. Setelah deklarasi hingga adanya podcast ini, pekerjaan sebenarnya baru dimulai,” tegasnya.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyambut langkah tersebut. Pemkot Malang mendukung penguatan Osob Kiwalan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kota Malang.
“Podcast ini menjadi ruang kolaborasi sekaligus langkah lanjutan setelah deklarasi Ngalam Hebak (Malang Kabeh) untuk menjangkau masyarakat lebih luas dan membuka percakapan mengenai identitas Kota Malang,” kata Wahyu. Salah satu langkah konkret yang didorong adalah pendokumentasian kosakata melalui kamus.
Penasihat Ahli Kapolri Prof. Hermawan menekankan, identitas lokal seharusnya menjadi perekat masyarakat, bukan pembatas. Sementara Dr. Imron Rozuli mendorong agar Osob Kiwalan diberi ruang baru yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga lebih dekat dengan generasi muda.
Bambang Rukminto menilai keberadaan identitas dan solidaritas bersama juga berkaitan dengan ketahanan sosial, sehingga pelestarian Osob Kiwalan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas.
Sedangkan Dr. Drs. Mohammad Solikin, M.Si yang akrab disapa Solihin Bahari mengatakan, sebagai orang asli Malang sangat senang bila Boso Walikan bisa terus dikembangkan sebagai identitas dan alat komunikasi.
“Gagasan Kapolresta dan Wali Kota untuk mengembangkan serta meningkatkan budaya asli Malang sebagai budaya lokal seperti boso walikan harus didukung terus, tidak boleh berhenti hanya dalam even saja,” ujar Solihin Bahari yang juga dosen praktisi di Ilkom FISIP UB.
Podcast Ngalam Hebak menjadi rangkaian lanjutan setelah deklarasi Ngalam Hebak — Malang Kabeh di Kampung Celaket pada Minggu, 27 September 2026.
Pesan yang dibawa semakin jelas: Osob Kiwalan tidak cukup disimpan sebagai cerita tentang Malang masa lalu. Bahasa itu harus tetap digunakan, dikenalkan dan diwariskan. (Ria)












