{"id":4980,"date":"2026-09-19T15:27:46","date_gmt":"2026-09-19T15:27:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/?p=4980"},"modified":"2026-09-19T15:27:46","modified_gmt":"2026-09-19T15:27:46","slug":"mengabdi-lewat-seni-plt-bupati-tulungagung-dan-golkar-meriahkan-pagelaran-wayang-jemblung-damarwulan-ngawula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/?p=4980","title":{"rendered":"Mengabdi Lewat Seni: Plt. Bupati Tulungagung dan Golkar Meriahkan Pagelaran Wayang Jemblung &#8220;Damarwulan Ngawula&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>TULUNGAGUNG, Jejaringindonesia.com<\/em><\/strong> &#8211; Nuansa kebudayaan begitu terasa di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Tulungagung, Sabtu (19\/9\/2026) malam. Ruang yang selama ini menjadi tempat aktivitas politik tersebut bertransformasi menjadi panggung seni tradisi melalui Pagelaran Seni Jemblung Campursari Sekar Mekar Picisan, Kecamatan Sendang.<\/p>\n<p>Pertunjukan budaya itu tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat sekaligus mengenalkan kembali kekayaan seni tradisional kepada generasi penerus.<\/p>\n<p>Pagelaran tersebut dihadiri Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tulungagung Jairi Irawan, S.Hum., M.A.P., Mayjen TNI (Purn.) Hari Yuwono, S.I.P., M.M., jajaran Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, jajaran pengurus DPD Partai Golkar, Ketua PK, Ketua PD, anggota Fraksi DPD Partai Golkar Tulungagung, Ki Dalang Muslan, para budayawan, seniman, serta masyarakat dan tamu undangan.<br \/>\nDamarwulan Ngawula, Kisah Pengabdian yang Sarat Makna<\/p>\n<p>Malam itu, Paguyuban Seni Sekar Mekar Picisan Sendang membawakan lakon Damarwulan Ngawula. Cerita tersebut mengangkat perjalanan Damarwulan yang mengawali pengabdiannya dari kehidupan sederhana sebagai seorang abdi pemelihara kuda.<\/p>\n<p>Meski berada dalam posisi yang dipandang sebelah mata, Damarwulan digambarkan memiliki keberanian, kecerdasan dan keteguhan hati. Ketika Kerajaan Majapahit menghadapi ancaman dari Minak Jinggo, Adipati Blambangan, Damarwulan harus menjalankan tugas berat yang penuh risiko.<\/p>\n<p>Kesetiaan, keberanian dan ketulusan dalam mengabdi akhirnya menjadi kekuatan Damarwulan untuk menghadapi tantangan tersebut. Kisah itu sekaligus menyampaikan pesan bahwa kedudukan bukanlah ukuran utama seseorang, melainkan ketulusan dalam menjalankan tanggung jawab dan kesetiaan terhadap pengabdian.<\/p>\n<p>Pesan tersebut menjadi semakin relevan dengan kehidupan bermasyarakat, bahwa setiap orang memiliki peran untuk memberikan manfaat sesuai bidang dan tanggung jawabnya.<\/p>\n<p>Plt. Bupati: Ngawula Berarti Mengabdi kepada Masyarakat<br \/>\nDalam sambutannya, Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin memberikan apresiasi kepada keluarga besar DPD Partai Golkar Tulungagung yang telah memberikan ruang bagi seni dan budaya tradisional untuk berkembang.<\/p>\n<p>Menurutnya, kata ngawula memiliki makna yang sangat dekat dengan kehidupan para pemimpin, pengurus organisasi maupun masyarakat.<br \/>\n\u201cKata ngawula itu artinya mengabdi. Kita semua yang hadir di sini, baik pimpinan daerah, pengurus partai, maupun para seniman, memiliki tugas yang sama yaitu mengabdi kepada bangsa dan masyarakat. Mengabdi untuk membangun Kabupaten Tulungagung secara bersama-sama,\u201d ujarnya.<br \/>\nIa menilai pertunjukan Jemblung tidak sebatas tontonan. Di dalamnya terdapat pesan moral, nilai keharmonisan, serta pembelajaran kehidupan yang dapat menjadi refleksi bagi masyarakat.<br \/>\nKebudayaan sebagai Jati Diri<\/p>\n<p>Sementara itu, budayawan Hari Yuwono menekankan pentingnya menempatkan kebudayaan sebagai bagian fundamental dalam kehidupan masyarakat.<br \/>\nMenurutnya, kebudayaan bukan hanya berkaitan dengan kesenian, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun karakter dan jati diri bangsa.<\/p>\n<p>\u201cKebudayaan adalah hal yang pokok. Berpolitik, berekonomi, hingga menjaga keamanan harus selalu berlandaskan kebudayaan sebagai jati diri manusia Indonesia,\u201d jelas Hari Yuwono.<br \/>\nIa berharap ruang-ruang kebudayaan seperti pagelaran Jemblung dapat terus diperbanyak sehingga seni tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dan diteruskan oleh generasi muda.<br \/>\nKantor DPD Golkar Jadi Ruang Ekspresi Seniman<\/p>\n<p>Ketua DPD Partai Golkar Tulungagung Jairi Irawan, S.Hum., M.A.P., mengatakan pagelaran seni tradisional tersebut merupakan bagian dari agenda rutin yang digelar setiap tiga bulan sekali di Kantor DPD Partai Golkar Tulungagung.<br \/>\nMenurut Jairi, kantor partai tidak hanya difungsikan sebagai tempat aktivitas organisasi, tetapi juga diupayakan menjadi ruang untuk menyerap aspirasi, menyampaikan informasi kepada masyarakat dan memberikan kesempatan kepada seniman lokal untuk berekspresi.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin kantor DPD Golkar juga menjadi ruang bersama, termasuk bagi para seniman dan budayawan untuk menampilkan karya serta menjaga tradisi yang ada di Tulungagung,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pagelaran Jemblung Campursari Sekar Mekar Picisan dari Picisan, Kecamatan Sendang, tersebut menjadi salah satu bentuk nyata upaya mempertemukan ruang politik dengan ruang kebudayaan.<br \/>\nMelalui kegiatan semacam ini, nilai gotong royong, persatuan, pengabdian dan kecintaan terhadap budaya lokal diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Seni tradisi pun diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang dan memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Tulungagung.<br \/>\n(Hanik)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TULUNGAGUNG, Jejaringindonesia.com &#8211; Nuansa kebudayaan begitu terasa di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Tulungagung, Sabtu (19\/9\/2026) malam. Ruang yang selama ini menjadi tempat aktivitas&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4981,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[48,46],"tags":[],"class_list":["post-4980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-pemerintahan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4980"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4980\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4982,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4980\/revisions\/4982"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}