{"id":4494,"date":"2026-08-31T23:05:02","date_gmt":"2026-08-31T23:05:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/?p=4494"},"modified":"2026-09-05T23:14:27","modified_gmt":"2026-09-05T23:14:27","slug":"cerita-di-balik-karnaval-lawang-riuh-kreativitas-tanpa-suara-bising","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/?p=4494","title":{"rendered":"Cerita di Balik Karnaval Lawang, Riuh Kreativitas Tanpa Suara Bising"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<figure id=\"attachment_4495\" aria-describedby=\"caption-attachment-4495\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-4495\" src=\"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0051-300x154.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"154\" srcset=\"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0051-300x154.jpg 300w, https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0051-1024x526.jpg 1024w, https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0051-768x394.jpg 768w, https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0051-800x411.jpg 800w, https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG-20260831-WA0051.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4495\" class=\"wp-caption-text\">Panitia karnaval lawang. Dari sebelah kiri : pak kuswandi ketua RW 9, pak gunardi ketua RW 4, pak Bambang Puji Raharjo lurah lawang, Bapak H. Daya Sundara ketua LPMK Lawang, pak Kris ketua RW 7, Pak Imam ketua RW 3, Ketua Panitia Pak Mahmud Haris Al Amin, S.T., S.Pd., M.Pd. Kepala Sekolah SDN 2 WONOREJO.<\/figcaption><\/figure><\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>LAWANG, SJP \u2014 Pagi itu, jalanan Lawang mulai dipenuhi warga. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia datang dengan kostum dan atribut yang telah disiapkan jauh-jauh hari. Satu per satu kontingen bersiap menunggu giliran berjalan dan tampil di hadapan masyarakat beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Namun, ada sesuatu yang berbeda dari suasana karnaval pada umumnya. Tidak terdengar dentuman suara bising (sound horeg) yang mendominasi jalanan. Tidak ada goyang pargoy, pakaian vulgar, maupun suasana pesta yang kehilangan makna.<\/p>\n<p>Yang terdengar justru riuh percakapan warga, musik pengiring penampilan, serta kreativitas peserta yang membawa cerita masing-masing.<\/p>\n<p>Di balik konsep tersebut, ada gagasan yang sejak awal ingin ditanamkan Ketua LPMK Kelurahan Lawang, H. Daya Sundara, yang juga merupakan pemilik PT Excel Mandiri bersama panitia dan kesepakatan warga.<\/p>\n<p>Pembukaan Karnaval Kelurahan Lawang dilakukan H. Daya Sundara, didampingi Mahmud Haris Al Amin selaku Ketua Panitia Karnaval dan Pawai Baris. Haris juga dipercaya menjadi MC dalam kedua rangkaian kegiatan tersebut.<\/p>\n<p>Menurut Daya, masyarakat tetap membutuhkan hiburan. Tetapi hiburan tidak harus selalu identik dengan kebisingan dan euforia berlebihan.<\/p>\n<p>\u201cJangan cuma kita, ibaratnya, kemerdekaan itu dilakukan dengan hura-hura. Kita harus menghargai sejarah, bagaimana kakek nenek kita dulu berjuang untuk memerdekakan negara ini,\u201d katanya, Minggu (30\/8\/2026).<\/p>\n<p>Bagi Daya, pemikiran itu kemudian diterjemahkan ke dalam konsep Karnaval Kelurahan Lawang yang mengangkat sejarah perjuangan dan kebudayaan.<\/p>\n<p>Permainan tradisional kembali diperkenalkan. Pakaian bernuansa budaya dikenakan peserta. Sementara drama teatrikal menjadi cara bagi setiap kontingen untuk membawa cerita sejarah ke tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Senada, Haris mengatakan mengisahkan. Jika sejarah tidak lagi hanya menjadi cerita di buku. Di jalanan Lawang, sejarah diperagakan, dimainkan dan disaksikan bersama.<\/p>\n<p>Ada kontingen yang membawa cerita perjuangan kemerdekaan. Ada pula yang mengangkat kisah tokoh dan sejarah daerah, mulai dari Roro Jonggrang, Pangeran Buntung Buntowoso, Remusa, Singosari, Majapahit, Lawang Sewu hingga sejarah Stasiun Lawang.<\/p>\n<p>Di situlah karnaval kemudian menemukan maknanya. Hiburan tetap hadir, tetapi berjalan beriringan dengan edukasi.<\/p>\n<p>Anak-anak tidak hanya berdiri di pinggir jalan sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari pertunjukan. Remaja, orang dewasa hingga lansia juga mengambil peran dalam satu rangkaian kegiatan.<\/p>\n<p>Bagi Haris, keterlibatan lintas generasi tersebut merupakan investasi sosial. Anak-anak diberi ruang untuk berkarya, berinteraksi dengan lingkungan sekaligus memahami nilai yang terkandung dalam peringatan kemerdekaan.<\/p>\n<p>Keberagaman latar belakang peserta juga tidak menjadi penghalang. Mereka bertemu dalam satu panggung dan satu jalan yang sama. Nasionalisme tidak sekadar diucapkan melalui slogan, tetapi dipraktikkan melalui kerja bersama.<\/p>\n<p>Peserta mulai mengantre sekitar pukul 07.00 WIB, sementara pemberangkatan dijadwalkan pukul 07.30 WIB. Rangkaian penampilan bahkan terus berlangsung hingga sore karena sejumlah RW masih menunggu giliran.<\/p>\n<p>&#8220;Sebanyak 15 kontingen dari 11 RW ikut ambil bagian. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari warga, kelompok lansia, lingkungan sekolah, PT Excel Mandiri, DNN 6 Project hingga staf kelurahan,&#8221; kata Haris.<\/p>\n<p>Di sepanjang jalur karnaval, masyarakat bukan hanya menyaksikan pertunjukan. Aktivitas ekonomi juga ikut bergerak.<\/p>\n<p>Pelaku UMKM dan pedagang dari Kecamatan Lawang memanfaatkan keramaian tersebut untuk menjajakan berbagai dagangan.<\/p>\n<p>Jalanan pun berubah menjadi ruang bersama. Ada hiburan, ada perniagaan, ada sejarah, ada budaya, sekaligus ada perjumpaan antarwarga.<\/p>\n<p>&#8220;Karnaval yang dimulai sejak pagi itu baru berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. Waktu yang panjang tersebut menjadi gambaran besarnya energi warga ketika kreativitas diberi ruang,&#8221; Pungkas Haris.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, Karnaval Kelurahan Lawang seperti ingin menunjukkan satu hal sederhana: sebuah perayaan kemerdekaan tidak harus kehilangan makna hanya karena ingin menghadirkan hiburan.<\/p>\n<p>Tetapi riuh itu datang dari kreativitas warga, cerita sejarah, tepuk tangan penonton dan kebersamaan lintas generasi, bukan semata-mata dari suara sound yang bising.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; LAWANG, SJP \u2014 Pagi itu, jalanan Lawang mulai dipenuhi warga. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia datang dengan kostum dan atribut yang telah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-4494","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-komunitas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4494","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4494"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4494\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4498,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4494\/revisions\/4498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}