{"id":3410,"date":"2026-08-06T04:01:23","date_gmt":"2026-08-06T04:01:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/?p=3410"},"modified":"2026-08-06T04:01:23","modified_gmt":"2026-08-06T04:01:23","slug":"gagasan-yunus-saflembolo-kembangkan-umkm-papua-lewat-from-planning-to-downstreaming-berbasis-kearifan-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/?p=3410","title":{"rendered":"Gagasan Yunus Saflembolo: Kembangkan UMKM Papua Lewat &#8220;From Planning to Downstreaming&#8221; Berbasis Kearifan Lokal"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>PAPUA, Jejaringindonesia.com<\/em><\/strong> \u2013 Tokoh Papua Yunus Saflembolo, SE., MTP menawarkan model baru pengembangan UMKM di Tanah Papua. Konsepnya bertumpu pada potensi lokal dan kearifan adat dengan pendekatan &#8220;From Planning to Downstreaming&#8221; atau dari perencanaan hingga hilirisasi.<\/p>\n<p>Gagasan ini disampaikannya pada Selasa (05\/08\/2026). Menurut Yunus, pembangunan ekonomi Papua tidak bisa meniru model dari luar, tetapi harus berpijak pada apa yang sudah dimiliki masyarakat secara turun-temurun.<\/p>\n<p>Dasar pemikiran ini bertumpu pada komoditas unggulan Papua seperti sagu, keladi, jagung, ubi-ubian, hasil hutan, dan perikanan. Tak hanya itu, nilai luhur budaya seperti semangat gotong royong dan sistem kepemilikan bersama juga menjadi fondasi utama.<\/p>\n<p>&#8220;Kita mulai dari apa yang ada di kampung. Jangan merusak tatanan adat, justru jadikan itu kekuatan,&#8221; ujar Yunus.<\/p>\n<p>Perencanaan Berbasis Kearifan Lokal<br \/>\nLangkah konkretnya meliputi pemetaan potensi per kampung\/distrik, melibatkan kepala adat, tokoh kampung, dan ibu-ibu dalam merancang usaha, serta menyusun rencana produksi yang selaras dengan siklus alam.<br \/>\nContohnya, pengolahan sagu dengan cara tradisional dikembangkan menjadi tepung berkualitas, dan pemanfaatan varietas keladi serta jagung lokal yang sudah terbukti tahan.<\/p>\n<p>Hilirisasi Produk \u2013 Menaikkan Nilai Tambah Bahan mentah diolah menjadi produk jadi yang memiliki identitas Papua.<\/p>\n<p>Sagudiolah jadi mie sagu, biskuit sagu, hingga makanan bayi dengan kemasan bermotif ukiran adat.<br \/>\nKeladi menjadi keripik, tepung, dan kue kering. Jagung diolah jadi sereal, camilan, dan bahan roti.<br \/>\nPrinsipnya: bahan baku 100% dari wilayah setempat, proses melibatkan tenaga kerja lokal, dan kemasan mengangkat budaya daerah.<\/p>\n<p>Dibangun berjenjang dari kampung ke pasar. Kelompok Wanita Tani mengelola bahan baku, Koperasi Desa Merah Putih menangani pengolahan lanjutan, hingga Sentra IKM di tingkat provinsi untuk pembinaan dan akses ekspor.<\/p>\n<p>Dukungan datang dari Pemerintah lewat pelatihan dan Dana Otsus, Perguruan Tinggi untuk riset produk, dan Masyarakat yang menjaga kelestarian bahan baku.<\/p>\n<p>Sasaran: Ekonomi, Sosial, dan Budaya<br \/>\nYunus menyebut model ini punya 4 manfaat utama:<\/p>\n<p>1. Ekonomi: Pendapatan masyarakat meningkat berkali lipat dan mengurangi ketergantungan barang dari luar Papua.<br \/>\n2. Sosial: Menciptakan lapangan kerja di kampung dan mengurangi urbanisasi.<br \/>\n3. Budaya: Kearifan lokal tidak hilang, justru menjadi nilai jual utama.<br \/>\n4. Pembangunan: Selaras dengan visi Otonomi Khusus untuk kemandirian masyarakat Tanah Papua.<\/p>\n<p>&#8220;Keuntungan usaha nanti dikembalikan lagi untuk pendidikan, kesejahteraan kampung, dan peremajaan usaha. Ini ekonomi yang berputar di kampung,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p><strong><em>Jurnalis: Ria<\/em><\/strong><br \/>\n<strong><em>Editor: Diky Prasetyo<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PAPUA, Jejaringindonesia.com \u2013 Tokoh Papua Yunus Saflembolo, SE., MTP menawarkan model baru pengembangan UMKM di Tanah Papua. Konsepnya bertumpu pada potensi lokal dan kearifan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3411,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,48],"tags":[],"class_list":["post-3410","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3410","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3410"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3410\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3412,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3410\/revisions\/3412"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3410"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3410"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jejaringindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3410"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}